Senin, 21 Oktober 2019

“EUROPEAN FOR EUROPEAN”


TUGAS STUDI DIPLOMASI KAWASAN EROPA BARAT
“EUROPEAN FOR EUROPEAN”



 AMELIA DISA






FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SLAMET RIYADI
SURAKARTA
2018




 
BAB I
LATAR BELAKANG

Eropa merupakan tempat yang sering menjadi lokasi tujuan imigran dan pencari suaka dari negara-negara berkonflik seperti Suriah, Irak, dan Afganistan. Masyarakat sipil yang merasa terancam dengan konflik berkepanjangan di negaranya menginginkan keamanan. Mereka pun memilih untuk pergi dari negaranya ke negara lain yang mereka anggap lebih aman, untuk mencari perlindungan atau suaka. Selain Eropa diangap memnuhi kriteria sebagai daerah yang damai dan memiliki perekonomian yang lebih baik, gelombang pengungsi ini juga didukung karena letak geografis Eropa yang berdekatan dengan negara-negara tersebut.
Sejak tahun 2006 hingga 2017, gelombang pengungsi yang memasuki Uni Eropa tercatat mencapai puncaknya pada tahun 2015 yaitu sebanyak 1.322 juta orang. Pada tahun berikutnya, 2016, aliran ini sedikit menurun menjadi 1.260 juta orang pengungsi yang memasuki kawasan Uni Eropa. Kemudian menurun drastis pada tahun 2017 dimana hanya 704.000 orang penungsi yang diterima.Asylum seeker  paling besar berasal dari negara Suriah, yaitu sebesar 33% dari total pengungsi, atau sekitar 175.855 orang. Kedua berasal dari Afganistan yaitu sebanyak 19%, dan dari Irak sebanyak 12%.[1]
Jumlah pengungsi yang berimigrasi ke Eropa ini dianggap sebagai ancaman oleh masyarakat Eropa. Berbagai kekhawatiran muncul dari krisis imigran yang semakin meningkat di kawasan ini. Adanya kekhawatiran bahwa Eropa akan menjadi benua Islam karena pengaruh pengungsi Muslim dalam jumlah besar ini akan menguasai. Bahkan pada tahun 2010 lalu, presiden Front Nasional Prancis, Marine Le Pen, mengatakan bahwa pemandangan Muslim yang beribadah di jalanan menyerupai ketika masa kependudukan Nazi di era Perang Dunia II.[2]
Selain itu, alasan mendasar dari munculnya anti-imigran adalah karena negara-negara tujuan pengungsi itu sendiri masih memiliki permasalahan di internalnya. Di Ceko, pengangguran dari angkatan kerja di negaranya merupakan masalah yang belum teratasi, dimana jumlahnya mencapai 8%.[3] Permasalahan lain yang dikhawatirkan adalah adanya tindakan kriminal dan terorisme yang muncul sebagai akibat dari mudahnya arus perpindahan dari negara ke negara ini.
Maka dari itu, Eropa dan masyarakatnya melakukan “aksi penolakan” terhadap asylum seeker yang berasal dari negara dengan budaya yang jauh berbeda. Partai-partai sayap kanan di Eropa membentuk aliansi bernama Movement for a Europe of Nations and Freedom, atau dalam Parlemen Eropa disebut dengan Europe of Nations and Freedom. Grup politik yang memiliki ideologi konservatif dan anti-imigran ini bertujuan untuk menciptakan Eropa yang bebas dari imigran dan ancaman-ancaman yang datang seiringnya.


























BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Awal Mula Europe for European

Gelombang pengungsi di Eropa yang semakin meningkat ini menyebabkan kekhawatiran warga asli Eropa. Warga asli Eropa merasa bahwa adanya pengungsi yang banyak berasal dari Timur Tengah, menyebabkan meningkatnya radikalisme dan ekstrimisme di Eropa, sehingga dapat mengancam keamanan Eropa. Selain itu, dengan semakin banyaknya jumlah pengungsi yang akan diterima di negara-negara Eropa juga akan berdampak pada berkurangnya lahan pekerjaan di Eropa untuk penduduk asli sendiri.
Karena hal itulah, muncul gerakan xenophobia[4] di berbagai daerah di Eropa. Salah satu gerakan tersebut adalah partai sayap kanan Yunani yang bernama Golden Dawn, atau yang dalam bahasa Yunani bernama Chrysi Avgi. Partai ini digolongkan oleh akademisi dan media sebagai partai neo-Nazi dan fasis. Tetapi mereka menolak anggapan tersebut, dan mengidentifikasikan dirinya sebagai partai nasionalis dan rasial. Partai ini mempunyai slogan yang berbunyi “Yunani milik warga Yunani” atau dalam bahasa Inggris “Greek for the Greece”.
Pada tahun 2012, partai Golden Dawn memenangkan pemilihan umum di Yunani dengan perolehan suara sebesar tujuh persen.[5] Partai ini pun menarik perhatian dunia, karena partai neo-Nazi pertama yang memperoleh kekuasaan di parlemen Yunani. Gerakan dari partai ini pun meluas. Partai ini memiliki sekutu dan membentuk “Front Nasional Eropa”. Front ini terdiri dari Partai Golden Dawn dari Yunani, Partai La Falange dari Spanyol, dan Partai Demokratis Jerman. Front ini mengajak warga Eropa untuk ikut bersama dalam menolak pengungsi dan menolak integrasi Uni Eropa.[6]
Selain Front Nasional Eropa, terdapat juga dua aliansi partai-partai sayap kanan Eropa yang duduk dalam parlemen Uni Eropa  yang menolak pengungsi. Nama aliansi itu adalah Alliance of European National Movement dan European Alliance for Freedom. Mereka memiliki misi yang sama, yaitu menolak pengungsi dari negara-negara Timur Tengah dan menolak integrasi.
Dengan adanya slogan “Yunani milik warga Yunani” ini, warga Eropa yang sudah bersatu sejak adanya Uni Eropa menjadi “tersadar” dengan adanya warga asing. Mereka pun bangkit dengan membentuk gerakan yang menentang adanya imigran. Gerakan inilah yang nanti akan mempengaruhi kebijakan Uni Eropa dalam pengurusan pengungsi.

2.2 Perkembangan Europe for European

            Dalam perkembangannya, pergerakan partai sayap kanan semakin masif. Tidak hanya di Yunani, tetapi juga menyebar di negara-negara Eropa lainnya. Salah satunya adalah Prancis. Prancis memiliki partai sayap kanan yang sangat berpengaruh, yaitu Front Nasional. Partai ini dipimpin oleh Marine Le Pen, dimana Le Pen pernah berseru bahwa partai sayap kanan Eropa harus bangkit dalam menghadapi imigran.
Bak gayung yang bersambut, kelompok warga Eropa anti-imigran pun turun ke jalan untuk menolak datangnya imigran. Penolakan ini disebabkan karena banyaknya kasus kriminal yang dilakukan oleh imigran yang dianggap bisa mengancam keamanan Eropa. Seperti yang terjadi di Jerman pada tahun 2016, ketika seorang imigran melakukan pemerkosaan dan pembunuhan kepada seorang gadis Jerman, yang diketahui sebagai anak dari seorang petinggi Uni Eropa.[7]
Tidak hanya melakukan tindakan kriminalitas secara individu saja, pengungsi-pengungsi ini juga ditengarai disusupi oleh anggota-anggota kelompok terorisme. Sehingga para pelaku terorisme dengan leluasa melakukan serangan terorisme di berbagai negara Eropa. Serangan terparah terjadi di Inggris dan Prancis, sehingga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Bahkan di Swedia pun para imigran membentuk kelompok yang ditengarai melakukan tindak kriminalitas. Hal ini diperkuat ketika polisi Swedia menemukan senjata api dan granat di pemukiman imigran. Temuan ini menyebabkan xenophobia di Eropa semakin menjadi-jadi, bahwa para imigran ini merupakan ancaman bagi bangsa Eropa. Akibat tindakan ini, massa anti-imigran pun semakin masif hingga sekarang. Massa ini tidak hanya melakukan aksi turun ke jalan saja, tetapi juga melakukan penyerangan dan tindakan rasial kepada semua orang yang dianggap bukan dari Eropa. Bahkan di Jerman sempat terjadi kerusuhan yang berakibat penyerangan di toko milik orang keturunan Yahudi, dan tindakan rasial terhadap orang-orang Indonesia di Jerman.
Tindakan rasial ini pun juga menyebar di segala lini. Banyak pemain sepakbola atau artis yang bukan berasal dari Eropa mengalami tindakan rasis.  Tindakan ini mulai dari perkataan rasis hingga aksi pelemparan pisang ke dalam lapangan sepakbola. Pelemparan pisang dianggap perilaku rasial, karena pisang identik dengan makanan monyet. Hal ini merupakan bentuk hinaan kepada orang berkulit hitam yang diibaratkan sebagai primata tersebut.[8]

2.3 Kebijakan Europe for European

Karena desakan dari partai sayap kanan Eropa, kelompok masyarakat dan negara-negara Eropa Timur mengakibatkan Uni Eropa dan Jerman harus mengubah kebijakan dalam penerimaan imigran. Kebijakan Uni Eropa yang dulu memberikan kuota 120.000 imigran di setiap negara Eropa dan kebijakan Jerman yang membuka akses suaka ini, memberikan efek ke negara-negara lainnya. 
Seperti yang terjadi di Yunani dan Italia, kedua negara ini harus menampung pengungsi yang datang dari Timur Tengah dan negara Eropa Timur yang menjadi tempat transit pengungsi yang akan ke Jerman. Hal ini mengakibatkan ancaman keamanan dan ekonomi bagi negara-negara yang berbatasan langsung dengan Timur Tengah dan tempat transit sementara pengungsi. Ini menyebabkan penolakan dari Italia dan Eropa Timur. Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini, bahkan mengatakan kalau Italia harus berhenti menjadi “kamp pengungsi di Eropa”.[9] Bahkan Hungaria membuat rancangan undang-undang di mana siapa pun yang akan membantu pengungsi akan dipidana.[10] Ini disebabkan banyak negara-negara Eropa Timur sudah menanggung beban yang berat dengan adanya pengungsi yang berasal dari Eropa sendiri.
Hal inilah yang mengakibatkan gejolak di Uni Eropa, sehingga Uni Eropa harus mengubah kebijakan tentang pengungsi. Jika semula setiap negara wajib memberikan suaka sebanyak 120.000 imigran, akhirnya diganti dengan setiap negara membuat pusat-pusat imigran di mana negara-negara bebas menerima atau menolak suaka. Jika suaka mereka ditolak,  maka imigran ini akan dipulangkan ke negaranya. Hal ini masih menjadi pertanyaan publik, dengan adanya pusat-pusat imigran di setiap negara Eropa ini seperti memberikan harapan palsu ke imigran. Karena mereka harus menunggu kepastian suaka mereka diterima atau ditolak dengan waktu yang tidak pasti.
Seperti halnya Uni Eropa, Jerman pun melakukan hal yang sama. Kanselir Jerman mengatakan bahwa Jerman mempunyai batasan dalam penerimaan pengungsi. Padahal Jerman adalah salah satu negara tujuan pengungsi, karena dahulu dengan lantang mengatakan bahwa akan menerima pengungsi dengan mudah melalui “Open Policy”. Akhirnya dengan pertimbangan kritik dalam negeri maupun luar negeri, Pemerintah Jerman pun mengambil keputusan dengan menerapkan kebijakan memperketat permintaan suaka.[11]
Keputusan ini disetujui oleh negara-negara di Uni Eropa, tetapi Hungaria tetap menjadi negara yang vokal terhadap keputusan itu. Hungaria tetap ingin bahwa Uni Eropa menolak adanya kedatangan pengungsi. Sedangkan untuk negara Eropa Timur lainnya tetap setuju dengan keputusa Uni Eropa.
















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kebijakan Negara mengenai penolakan terhadap penerimaan kaum imigran dan pengungsi sangatlah diperjuangkan oleh Negara Eropa dan dibantu oleh organisasi dari Yunani (Golden Dawn) dikarenakan Negara Eropa takut akan ancaman yang akan diberikan oleh imigran dan pengungsi tersebut, lebih tepatnya Negara Eropa mengkhawatirkan jika mereka menerima Imigran dan pengungsi tersebut akan berdampak pada pemerintahan Negara Eropa itu sendiri serta warga negaranya atas tindakan kriminalitas yang dilakukan kepada warga Negara Eropa.
Negara Eropa juga melihat dari kejadian yang sudah terjadi pada tahun 2016 yakni di Negara Jerman dimana seorang imigran yang melakukan pemerkosaan dan pembunuhan kepada seorang gadis Jerman, yang diketahui sebagai anak seorang petinggi Uni Eropa, tidak hanya mempengaruhi pemerintahan dan juga melakukan kriminalitas di negara Eropa, malinkan Eropa juga menghawatirkan akan kualitas ekonomi mereka yang menurun jika menerima banyaknya imigran dan pengungsi.
Keluhan dari Negara Eropa sendiri membuat Uni Eropa mempertimbangkan kebijakan mereka ditambah dengan tekanan internasional dari Negara-negara lain yang membuat Uni Eropa akhirnya membuat keputusan untuk setiap Negara bebas atau menolak penerimaan suaka imigran dan pengungsi.


DAFTAR PUSTAKA

https://qz.com/1319399/angela-merkel-agrees-to-abandon-germanys-open-door-refugee-policy-to-save-her-government/





[1] “Asylum applications (non-EU) in the EU-28 Member States, 2006–2017,” https://ec.europa.eu/eurostat/statistics-explained/index.php/Asylum_statistics (akses 10 Desember 2018).
[2] “Europe and nationalism: A country-by-country guide,” https://www.bbc.com/news/world-europe-36130006 (akses 9 Desember 2018).
[3] Dibalik Penolakan Imigran Oleh Eropa Timur,” https://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/09/150923_dunia_imigran_eropatimur (akses 10 Desember 2018).
[4] Ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain, atau yang dianggap asing.
[5]Partai Sayap Kanan Yunani Tuntut Semua Imigran Dipulangkan,” https://www.voaindonesia.com/a/partai_sayap_kanan_yunani_tuntut_semua_imigran_dipulangkan/416884.html (akses 8 Desember 2018).
[6]        “Ketika Neo Nazi Tak Kenal Batas,” https://www.dw.com/id/ketika-neo-nazi-tak-kenal-batas/a-17107008 (akses 8 Desember 2018).
[7]           “Polisi Tangkap Pembunuh Putri Pejabat Uni Eropa,” https://www.cnnindonesia.com/internasional/20161205181801-134-177525/polisi-tangkap-pembunuh-putri-pejabat-uni-eropa (akses 8 Desember 2018).
[8]           “Waduh, Bale Dilempari Pisang oleh Suporter Arsenal,” https://www.liputan6.com/bola/read/526500/waduh-bale-dilempari-pisang-oleh-suporter-arsenal (akses 10 Desember 2018).
[9]           “Europe and nationalism: A country-by-country guide,” https://www.bbc.com/news/world-europe-36130006 (akses 9 Desember 2018).
[10]         “Membantu Pengungsi Bisa Dipidana di Hungaria,” https://www.bbc.com/indonesia/amp/dunia-44574066 (akses 8 Desember 2018).
[11]         “Angela Merkel has ditched her open-door refugee policy to save her government,” https://qz.com/1319399/angela-merkel-agrees-to-abandon-germanys-open-door-refugee-policy-to-save-her-government/ (akses 10 Desember 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar